
Breakdown of society, lol

Breakdown of society, lol
Tulisan ini terinspirasi dua orang teman; seorang teman yang pernah membahas masalah ini dengan saya, dan seorang teman yang bercita-cita menjadi astronot.
Saya sedang memikirkan ini saat tiduran di kursi belakang mobil dengan muka menghadap ke jendela, langsung ke langit: apa yang ada di luar sana? Tahun 2013 bukanlah tahun pertama kalinya orang memikirkan tentang makhluk-makhluk luar angkasa. Manusia memperkirakan (atau percaya?) tentang keberadaan mereka sejak lama sekali, sejak astronomi belum ditemukan, sejak demokrasi belum terpikirkan oleh Socrates. Kemudian manusia mulai berimajinasi, menulis dan membuat film tentang perjalanan luar angkasa dan menemukan planet-planet berpenghuni aneh. Bukan hal yang mustahil jika suatu saat film-film itu menjadi kenyataan. Kalau Tuhan mengijinkan.
Ilmu Pengetahuan.
Apalagi yang mampu memuaskan keingintahuan manusia selain ilmu pengetahuan? Dan imajinasi adalah latar belakangnya. Teknologi wireless ditemukan karena dahulu manusia bermimpi bisa berkomunikasi di manapun tanpa terbatasi oleh kabel. Mungkin Einstein memang benar, jenius adalah 99% imajinasi dan 1% keringat. Film-film seperti Star Wars dan Prometheus menggunakan pesawat berkecepatan warp untuk menjelajahi luar angkasa. Warp adalah teknologi yang berdasarkan teori faster than light speed, yang memungkinkan pergerakan lebih cepat dari kecepatan cahaya, sehingga jarak bertahun-tahun cahaya dapat ditempuh dengan cepat. Kita bisa lihat di sini, film dibuat berdasarkan teori sungguhan, meskipun teknologinya belum diciptakan. Silakan bayangkan kalau dua atau tiga millenium lagi teknologi warp sudah dikembangkan, bumi akan mengirimkan manusia-manusia kaleng timahnya jauh keluar orbit Mars. Atau bahkan keluar dari galaksi. Di sini, kita bicara tentang keajaiban imajinasi.
Katakanlah manusia berhasil menemukan cara bepergian di luar angkasa semacam itu. Pertanyaan selanjutnya adalah, untuk apa? Kemana? Planet baru. Manusia akan menjelajahi luar angkasa untuk menemukan planet baru. Mungkin untuk dihuni, mungkin juga untuk sekedar diteliti. Pertanyaannya adalah, apakah planet itu memiliki kehidupan, atau bentuk kehidupan? Pikirkan semua kemungkinan, jika kita hidup di sebuah planet kecil di sebuah galaksi, sementara di jagat raya ini terdapat milyaran galaksi, mungkinkah kita satu-satunya makhluk hidup yang ada? Mengapa ada begitu banyak planet jika hanya ada satu kehidupan di Bumi? Lebih jauh lagi, seorang senior dari jurusan Astronomi kampus saya mengatakan bahwa sebenarnya pernah ditemukan jejak atau sisa bentuk kehidupan yang ditemukan di luar angkasa, tapi bukan berupa makhluk setinggi satu meter dengan bagian belakang kepala menonjol, melainkan sejenis mikroorganisme. Menemukan bentuk kehidupan ekstraterestrial seperti itu hanya masalah waktu saja. Masalah terbesar mengapa kita sangat sulit menemukan kehidupan lain di luar angkasa adalah karena jangkauan area pencarian kita sangat kecil. Ditambah dengan masalah teknis seperti transmisi sinyal radio. Kalau saja teknologi warp sudah ditemukan…
Apakah Mereka Ada?
Sebanyak 83% responden debate.org menjawab ya, sisanya tidak. Macam-macam alasannya. Mereka yang masuk ke dalam 83% bicara tentang segala kemungkinan yang tidak terbatas. Mereka yang tergabung dalam 17% berdalih menggunakan agama, bahwa Tuhan hanya menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna itu mutlak tidak bisa disangkal lagi. Beberapa lagi menyangkal dengan keterbatasan kombinasi susunan asam amino. It is not religiously, scientifically, physically that extraterrestrial life forms exists. Lebih ekstrim lagi, beberapa orang ternyata lebih suka mengaitkannya dengan hal-hal gaib seperti setan dan hantu. Terlepas dari apakah alien itu representasi dari setan, dan dalil-dalil yang ada di kitab, bagaimana pendapat Anda?
Ada Tuhan, dan Tuhan Itu Ada.
Beberapa dari kita menyembah dan memercayai. Beberapa lagi hanya memercayai. Sisanya menyangkal. Kalau bicara tentang Tuhan, selalu terbentang kemungkinan yang luas. Tak terhingga. Tuhan telah berfirman kalau manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Pertanyaannya, di mana? Dalam hal apa? Bukan hal yang tidak mungkin kalau Tuhan menciptakan banyak alam semesta, kalau Tuhan menciptakan banyak bentuk kehidupan di luar sana, kalau Tuhan menciptakan makhluk yang lebih tidak sempurna dari kita di suatu tempat di jagat raya ini. Secara normal, kita berpikir bahwa kehidupan adalah ikatan-ikatan yang dibentuk oleh rantai atom-atom karbon. Bagaimana kita yakin hanya itu bentuk kehidupan yang ada? Bagaimana jika Tuhan menciptakan dunia dengan hukum yang berbeda dengan Bumi? Yang sering terjadi adalah manusia terbunuh karena rasa ingin tahunya sendiri, mungkin karena itulah Tuhan tidak menghendaki kita tahu.
Kalau luar angkasa adalah pagar terdepan yang membatasi ilmu pengetahuan manusia sekarang, maka Tuhan-lah batas terakhir jawaban yang manusia cari. Kalau Tuhan mengijinkan, di masa depan manusia akan melakukan perjalanan menjelajahi luar angkasa yang pertama. Kalau Tuhan mengijinkan.
Manusia-manusia kaleng timah itu, yang orang NASA sebut astronauts.
Here am I floating in my tin can
A last glimpse of the world
The planet Earth is blue and there’s nothing left to do..*
*)penggalan lirik lagu Space Oddity, David Bowie

What have we learned?
Video direkam di International Space Station. Lagu sekaligus gitar dinyanyikan dan dimainkan sendiri oleh Chris Hadfield, astronot Kanada. Video dan lagu direkam secara terpisah, video direkam di luar angkasa sementara lagunya direkam di bumi. Must see this guys, lol.
Kemarin (16/05/2013) saya dan beberapa teman melakukan perjalanan ke daerah pesisir selatan Jawa Barat. Perjalanannya tidak mudah, melewati jalanan sempit di sepanjang perkebunan teh di Cidaun dan tebing-tebing yang curam, terus ke selatan sampai ke daerah pesisir Cianjur. Sampailah di Pantai Jayanti. Bukan tempat yang akan kami rekomendasikan (karena memang tempatnya bergelimang sampah). Kami mampir sebentar di Jayanti untuk mencicipi hidangan lautnya: ikan & cumi bakar.

Ikan dan cumi bakar. Meskipun disajikan dalam ukuran potongan yang tidak easy-bite, tapi well-cooked juga.
Perjalanan dilanjutkan ke pantai selanjutnya, Rancabuaya. Di sini pantainya bersih. Tapi tidak demikian di area kedatangan. Tetap saja, sampah tidak pernah absen…

Next, Santolo. Santolo adalah nama sebuah pulau kecil di Garut. Pantainya lumayan
Catatan: Semoga ini bukan perjalanan bersama yang terakhir kami lakukan.